Doa Iktidal
Bacaan dzikir saat iktidal (berdiri setelah ruku) dalam shalat untuk memuji Allah yang telah mendengar pujian hamba-Nya
Doa Iktidal
Dzikir yang dibaca saat bangkit dari ruku ke posisi berdiri (iktidal), berisi pujian dan syukur kepada Allah yang mendengar hamba-Nya
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa saat bangkit dari ruku, hendaklah mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah', kemudian saat sudah berdiri tegak (iktidal) mengucapkan 'Rabbana wa lakal hamd'. Dalam riwayat lain, beliau menambahkan 'hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih' untuk menyempurnakan pujian Dibaca ketika dalam posisi iktidal (berdiri tegak setelah bangkit dari ruku) dalam setiap rakaat shalat
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
Tansliterasi
Sami'allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih
Terjemahan
Allah mendengar orang yang memuji-Nya, Ya Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji, pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah
Waktu yang dianjurkan
- Setelah bangkit dari ruku
- Setiap rakaat shalat
Pengulangan
1xDibaca satu kali dalam setiap iktidal, namun boleh menambah dzikir lainnya
Indikator
Mudah diucapkan
Medium
Mudah diingat
Medium
Popularitas
High
Keaslian sumber
Shahih
Sumber & Referensi
Doa ini didukung oleh sumber-sumber yang terpercaya berikut ini:
Sumber Utama
HR. Bukhari : 789
Terverifikasi Para Ulama
Doa ini telah diteliti dan diverifikasi oleh para ulama sebagai doa yang shahih dan sesuai dengan syariat Islam.
Keutamaan
- Merupakan bagian penting dari gerakan shalat yang menyempurnakan ibadah
- Melatih syukur dan pujian kepada Allah
- Mendatangkan ketenangan dan kekhusyukan dalam shalat
- Mengikuti sunnah Nabi dalam tata cara shalat yang sempurna
Frequently Asked Questions
Apa perbedaan antara 'Sami'allahu liman hamidah' dan 'Rabbana wa lakal hamd'?
'Sami'allahu liman hamidah' diucapkan saat mulai bangkit dari ruku (takbiratul intiqal), sedangkan 'Rabbana wa lakal hamd' diucapkan setelah berdiri tegak dalam posisi iktidal. Keduanya merupakan satu kesatuan dzikir dalam gerakan ini.
Apakah makmum juga mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah'?
Ada perbedaan pendapat. Pendapat yang kuat adalah makmum cukup mengucapkan 'Rabbana wa lakal hamd' saja, karena 'Sami'allahu liman hamidah' adalah bacaan imam. Namun ada ulama yang membolehkan makmum mengucapkan keduanya.
Berapa lama harus diam dalam posisi iktidal?
Harus tuma'ninah (diam sejenak) minimal cukup untuk mengucapkan 'Rabbana wa lakal hamd' dengan tenang. Ini adalah rukun shalat yang wajib. Boleh diperpanjang dengan menambah dzikir lainnya.
Apakah boleh menambah dzikir lain saat iktidal?
Sangat dianjurkan. Rasulullah mengajarkan beberapa dzikir tambahan saat iktidal seperti 'Mil'as samawati wa mil'al ardhi...' dan dzikir pujian lainnya, terutama dalam shalat sunnah.
Verified By
- Imam An-Nawawi (Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab)
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (Syarah Mumti')
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz (Majmu' Fatawa)
Penjelasan Lengkap
Doa Iktidal
Bacaan Arab
Saat Bangkit dari Ruku:
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
Saat Berdiri Tegak (Iktidal):
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
Cara Membaca (Transliterasi)
Saat Bangkit dari Ruku:
Sami'allahu liman hamidah
Saat Berdiri Tegak (Iktidal):
Rabbana wa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih
Arti
Saat bangkit dari ruku: "Allah mendengar orang yang memuji-Nya."
Saat iktidal: "Ya Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji, pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah."
Penjelasan
Iktidal adalah posisi berdiri tegak setelah bangkit dari ruku dan sebelum turun untuk sujud. Ini adalah salah satu rukun shalat yang wajib dilakukan dengan tuma'ninah (diam dan tenang). Posisi ini sering disebut juga dengan "i'tidal" yang berarti berdiri lurus dan tegak.
Gerakan dan dzikir iktidal memiliki dua tahapan:
Tahap Pertama - Sami'allahu liman hamidah: Kalimat ini diucapkan sambil mulai bangkit dari posisi ruku. Maknanya sangat indah: "Allah mendengar orang yang memuji-Nya." Ini menunjukkan bahwa Allah Maha Mendengar setiap pujian yang diucapkan oleh hamba-Nya, dan Dia menerima pujian tersebut dengan penuh kasih sayang.
Untuk imam shalat berjamaah, mengucapkan kalimat ini adalah sunnah muakkad. Namun untuk makmum, pendapat yang kuat dari para ulama adalah makmum tidak perlu mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah", melainkan langsung ke kalimat "Rabbana wa lakal hamd" saat sudah tegak.
Tahap Kedua - Rabbana wa lakal hamd: Setelah berdiri tegak sempurna dalam posisi iktidal, diucapkanlah kalimat pujian ini. "Rabbana wa lakal hamd" artinya "Ya Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji." Ini adalah bentuk tahmid (memuji Allah) yang menunjukkan bahwa segala puji hanya layak diberikan kepada Allah semata.
Rasulullah SAW mengajarkan tambahan "hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih" yang berarti "pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah." Tambahan ini menyempurnakan pujian dengan tiga sifat: banyak (tidak terbatas), baik (berkualitas), dan penuh berkah (membawa kebaikan).
Dalam sebuah hadis, seorang sahabat membaca dzikir ini dengan tambahan yang panjang hingga Rasulullah bertanya siapa yang mengucapkannya. Setelah sahabat tersebut mengaku, Rasulullah bersabda bahwa beliau melihat lebih dari 30 malaikat berlomba-lomba untuk mencatat dzikir tersebut. Ini menunjukkan keutamaan luar biasa dari dzikir iktidal.
Waktu yang Tepat
- Saat bangkit dari ruku di setiap rakaat shalat (untuk "Sami'allahu liman hamidah")
- Saat sudah berdiri tegak dalam posisi iktidal (untuk "Rabbana wa lakal hamd")
- Setelah takbiratul intiqal dari ruku
- Sebelum turun untuk sujud
- Dalam setiap shalat fardhu dan sunnah
Keutamaan
- Rukun Shalat: Berdiri iktidal dengan tuma'ninah adalah rukun shalat yang wajib. Shalat tidak sah jika meninggalkannya dengan sengaja
- Dzikir yang Dicintai Malaikat: Dalam hadis disebutkan bahwa malaikat berlomba-lomba mencatat dzikir iktidal yang diucapkan dengan sempurna
- Melatih Syukur: Dzikir ini melatih hamba untuk selalu bersyukur dan memuji Allah dalam setiap keadaan, termasuk dalam gerakan-gerakan shalat
- Penyeimbang Ibadah: Iktidal menjadi penyeimbang antara gerakan ruku (merendahkan diri) dan sujud (sujud total kepada Allah), mengajarkan bahwa ibadah harus seimbang
Tips Praktis
- Pastikan berdiri tegak sempurna, tidak membungkuk atau condong
- Kedua tangan kembali ke posisi seperti saat berdiri sebelum ruku (di dada atau di samping)
- Ucapkan "Sami'allahu liman hamidah" sambil mulai bangkit dari ruku
- Setelah tegak sempurna, baru ucapkan "Rabbana wa lakal hamd hamdan katsiran..."
- Jangan terburu-buru, pastikan ada tuma'ninah (diam sejenak dengan tenang)
- Dalam shalat sunnah, boleh memperpanjang iktidal dengan dzikir tambahan
- Renungkan makna pujian yang diucapkan
Bacaan Tambahan yang Dianjurkan
Rasulullah SAW juga mengajarkan beberapa dzikir tambahan saat iktidal:
1. Dzikir tambahan yang lebih panjang: مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ Mil'as samawati wa mil'al ardhi wa mil'a maa syi'ta min syai'in ba'du "(Pujian yang) memenuhi langit, memenuhi bumi, dan memenuhi apa yang Engkau kehendaki selain keduanya."
2. Tambahan pujian: أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ Ahlats tsanaa'i wal majdi, ahaqqu maa qaalal 'abdu, wa kulluna laka 'abdun "Yang berhak atas pujian dan kemuliaan, ucapan hamba yang paling benar, dan kami semua adalah hamba-Mu."
3. Untuk shalat malam: لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ Laa maani'a limaa a'thaita, wa laa mu'thiya limaa mana'ta, wa laa yanfa'u dzal jaddi minkal jaddu "Tidak ada yang menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau halangi, dan tidak berguna kekayaan dan kemuliaan bagi pemiliknya tanpa (rahmat) dari-Mu."
Dalil dan Referensi
- Hadis Shahih Bukhari No. 789: "Apabila imam mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah', maka ucapkanlah 'Rabbana wa lakal hamd'"
- Hadis Shahih Muslim No. 477: Tentang dzikir iktidal yang lengkap dengan tambahan "hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih"
- Hadis Shahih Bukhari No. 799: Tentang berlomba-lombanya malaikat mencatat dzikir iktidal
- Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab karya Imam An-Nawawi
- Syarhul Mumti' 'ala Zaadil Mustaqni' karya Syaikh Utsaimin
- Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, Bab Sifat Shalat
Doa Terkait dalam Doa Sholat
Jelajahi doa-doa lain yang berkaitan dengan doa iktidal