Doa Ketika Marah
Doa dan cara mengatasi amarah dengan berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk
Doa Ketika Marah
Doa untuk meredakan amarah dengan berlindung kepada Allah dari bisikan setan yang menghasut
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amarah berasal dari bisikan setan, sehingga cara terbaik mengatasinya adalah dengan berlindung kepada Allah dan mengubah posisi tubuh Dibaca ketika mulai merasa marah, baik karena masalah pekerjaan, keluarga, atau situasi lain yang memicu amarah
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Tansliterasi
A'uudzu billahi minasy syaithaanir rajiim
Terjemahan
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk
Waktu yang dianjurkan
- Saat mulai merasa marah
- Ketika emosi mulai memuncak
- Sebelum amarah meledak
Pengulangan
1-3xDibaca sambil menenangkan diri dan mengubah posisi
Indikator
Mudah diucapkan
Easy
Mudah diingat
Easy
Popularitas
High
Keaslian sumber
Shahih
Sumber & Referensi
Doa ini didukung oleh sumber-sumber yang terpercaya berikut ini:
Sumber Utama
HR. Bukhari : 3282
Terverifikasi Para Ulama
Doa ini telah diteliti dan diverifikasi oleh para ulama sebagai doa yang shahih dan sesuai dengan syariat Islam.
Keutamaan
- Meredakan amarah dengan bantuan Allah
- Melindungi diri dari perbuatan yang akan disesali
- Mengendalikan emosi dan menjaga hubungan baik dengan orang lain
- Mendapat pahala karena menahan amarah
Frequently Asked Questions
Mengapa amarah dikaitkan dengan setan?
Setan ingin memecah belah hubungan manusia dengan mendorong mereka marah dan berbuat buruk. Saat marah, seseorang bisa melakukan hal-hal yang merusak: memukul, mencaci, menceraikan, bahkan membunuh. Semua ini adalah tujuan setan.
Apa yang harus dilakukan selain membaca doa ini?
Rasulullah SAW mengajarkan beberapa cara: 1) Ubah posisi (jika berdiri, duduklah; jika duduk, berbaringlah), 2) Diam dan jangan bicara, 3) Berwudhu dengan air, 4) Pindah tempat atau keluar sebentar, 5) Ingat pahala menahan amarah.
Apakah marah itu selalu buruk dalam Islam?
Tidak selalu. Marah karena melihat kemunkaran atau pelanggaran agama adalah hal yang terpuji, seperti Rasulullah SAW yang marah saat melihat kemungkaran. Yang dilarang adalah marah karena urusan dunia dan hawa nafsu pribadi yang melampaui batas.
Bagaimana jika sudah terlanjur marah dan berbuat salah?
Segera minta maaf kepada orang yang terluka, istighfar kepada Allah, dan bertekad untuk tidak mengulangi. Rasulullah SAW bersabda: 'Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri saat marah.'
Verified By
- Imam Al-Bukhari (Shahih Bukhari)
- Imam Muslim (Shahih Muslim)
- Imam Abu Dawud (Sunan Abu Dawud)
Penjelasan Lengkap
Doa Ketika Marah
Bacaan Arab
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Cara Membaca (Transliterasi)
A'uudzu billahi minasy syaithaanir rajiim
Arti
"Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk."
Penjelasan
Marah adalah emosi alami yang dimiliki setiap manusia. Namun dalam Islam, kita diajarkan untuk mengendalikan amarah agar tidak melampaui batas dan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amarah yang tidak terkendali berasal dari bisikan setan yang ingin memecah belah hubungan antar manusia.
Dalam sebuah hadis shahih, ada seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata dalam keadaan marah. Rasulullah melihatnya dan bersabda: "Sesungguhnya aku tahu satu kalimat, jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang apa yang ia rasakan. Jika ia mengucapkan: 'A'uudzu billahi minasy syaithaanir rajiim' (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk), niscaya akan hilang apa yang ia rasakan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Mengapa setan sangat senang ketika manusia marah? Karena saat marah, akal sehat seseorang bisa hilang dan ia melakukan hal-hal yang tidak masuk akal: memukul orang yang dicintai, mengucapkan kata-kata kasar yang menyakitkan, bahkan menjatuhkan talak (menceraikan istri) dalam keadaan emosi. Semua ini adalah tujuan setan untuk menghancurkan kehidupan manusia.
Islam mengajarkan pendekatan holistik untuk mengatasi amarah: spiritual (doa dan dzikir), fisik (mengubah posisi dan berwudhu), dan mental (diam dan mengendalikan ucapan). Kombinasi ini sangat efektif untuk meredakan amarah.
Waktu yang Tepat
- Saat pertama kali merasa marah - jangan tunggu sampai amarah memuncak
- Ketika ada orang yang menyakiti hati - sebelum membalas dengan kata-kata kasar
- Saat terjadi konflik - di rumah, kantor, atau tempat umum
- Ketika merasa ingin memukul atau melakukan kekerasan - segera berlindung kepada Allah
- Sebelum mengambil keputusan penting - jangan putuskan apa pun saat marah
Keutamaan
-
Perlindungan dari Perbuatan yang Disesali: Amarah membuat seseorang kehilangan akal sehat dan melakukan hal-hal yang akan disesali seumur hidup. Dengan berlindung kepada Allah, kita terlindungi dari hal tersebut.
-
Pahala Menahan Amarah: Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah akan mengisi hati orang yang mampu menahan amarah dengan keimanan dan ketenteraman. Ini adalah pahala yang sangat besar.
-
Menjaga Hubungan Baik: Amarah bisa merusak hubungan dengan keluarga, teman, dan rekan kerja. Dengan mengendalikannya, kita menjaga hubungan baik yang telah terjalin.
-
Tanda Kekuatan Sejati: Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah." Menahan amarah adalah tanda kekuatan mental dan spiritual.
Tips Praktis
1. Langkah Spiritual
- Baca ta'awudz (A'uudzu billahi minasy syaithaanir rajiim) berulang kali
- Perbanyak dzikir: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar
- Istighfar: "Astaghfirullahal'azhim"
- Ingat Allah: Ingat bahwa Allah melihat dan menilai setiap perbuatan kita
2. Langkah Fisik
- Ubah posisi tubuh:
- Jika berdiri, duduklah
- Jika duduk, berbaringlah
- Hadis: "Jika salah seorang dari kalian marah saat berdiri, hendaklah ia duduk. Jika amarahnya belum hilang, hendaklah ia berbaring." (HR. Abu Dawud)
- Berwudhu dengan air dingin: Air dapat meredakan panas amarah
- Pindah tempat: Keluar dari ruangan atau situasi yang memicu amarah
3. Langkah Mental
- Diam dan jangan bicara: Saat marah, ucapan kita bisa sangat menyakitkan
- Tahan tangan: Jangan memukul atau melempar barang
- Ingat akibatnya: Pikirkan penyesalan yang akan datang jika melampiaskan amarah
- Fokus pada solusi: Bukan pada emosi
4. Pencegahan
- Tidur cukup: Orang yang kurang tidur lebih mudah marah
- Jangan lapar: Rasa lapar membuat emosi tidak stabil
- Puasa sunnah: Melatih pengendalian diri
- Olahraga teratur: Menyalurkan energi negatif
- Evaluasi diri: Kenali pemicu amarah dan hindari
Dalil dan Referensi
Hadis Shahih
Shahih Bukhari No. 3282 & Shahih Muslim No. 2610 - Sulaiman bin Shurad RA berkata:
"Dua orang laki-laki saling mencaci di hadapan Nabi SAW, dan salah satunya marah sekali hingga wajahnya merah dan urat lehernya menegang. Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya aku tahu satu kalimat, jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang apa yang ia rasakan. Jika ia mengucapkan: A'uudzu billahi minasy syaithaanir rajiim, niscaya akan hilang amarahnya.'"
Sunan Abu Dawud No. 4782 - Abu Dzarr RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada kami:
"Apabila salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika amarahnya belum hilang, hendaklah ia berbaring."
Sunan Tirmidzi No. 2020 - Rasulullah SAW bersabda:
"Marah itu dari setan, dan setan tercipta dari api. Api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu."
Shahih Bukhari No. 6114 - Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW: "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda: "Jangan marah." Orang itu mengulangi permintaannya beberapa kali, dan beliau tetap menjawab: "Jangan marah."
Keutamaan Menahan Amarah dalam Al-Quran
QS. Ali Imran (3): 134
"Dan (Surga itu) disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
QS. Asy-Syura (42): 37
"Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf."
Penjelasan Para Ulama
Imam An-Nawawi berkata: "Marah adalah kobaran api dalam hati manusia yang dinyalakan oleh setan. Oleh karena itu, obatnya adalah berlindung kepada Allah dari setan, mengubah posisi tubuh, dan berwudhu dengan air untuk memadamkan api amarah tersebut."
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Ad-Daa' wad-Dawaa' (Penyakit dan Obatnya) menjelaskan: "Amarah yang tidak terkendali adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia bisa menghancurkan hubungan, merusak kehidupan, bahkan membawa seseorang ke neraka jika menyebabkan pembunuhan atau kemaksiatan besar. Obatnya adalah dengan selalu mengingat Allah, membaca ta'awudz, dan melatih diri untuk menahan amarah."
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: "Orang yang berakal adalah yang mampu mengendalikan amarahnya di saat ia memiliki kekuatan untuk melampiaskannya. Adapun orang yang melampiaskan amarah padahal ia mampu menahannya, maka ia seperti binatang yang tidak memiliki akal."
Jenis-Jenis Marah dalam Islam
Islam membedakan beberapa jenis amarah:
1. Marah yang Terpuji (Mahmudah)
- Marah karena Allah (melihat kemunkaran)
- Marah membela kebenaran
- Marah demi tegaknya keadilan
- Contoh: Rasulullah SAW marah saat melihat orang melanggar perintah Allah
2. Marah yang Tercela (Madzmumah)
- Marah karena urusan dunia
- Marah karena harga diri terluka
- Marah yang berujung pada kekerasan atau kata-kata kasar
- Marah yang tidak terkendali
3. Marah yang Netral
- Marah wajar sebagai respons terhadap ketidakadilan
- Marah yang masih bisa dikendalikan
- Marah yang tidak sampai melampaui batas
Yang perlu dihindari adalah marah jenis kedua (tercela), sedangkan marah jenis pertama justru tanda keimanan yang kuat.
Bahaya Amarah yang Tidak Terkendali
Rasulullah SAW memperingatkan bahaya amarah:
-
Merusak Iman: "Amarah merusak iman seperti madu pahit merusak madu." (HR. Al-Bazzar)
-
Kehilangan Akal Sehat: Banyak kasus pembunuhan, perceraian, dan kekerasan terjadi dalam keadaan marah
-
Menyesal Seumur Hidup: Keputusan yang diambil saat marah sering disesali
-
Merusak Kesehatan: Marah meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi
-
Menjauhkan dari Surga: Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan." (HR. Muslim)
Kisah Teladan
Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA
Suatu hari, seorang laki-laki mencaci maki Abu Bakar RA di hadapan Rasulullah SAW. Abu Bakar diam saja. Laki-laki itu melanjutkan caciannya, namun Abu Bakar tetap diam dan tidak membalas. Namun ketika laki-laki itu mencaci untuk ketiga kalinya, Abu Bakar mulai membalasnya. Rasulullah SAW langsung berdiri dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Abu Bakar mengejar dan bertanya: "Ya Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?"
Rasulullah SAW menjawab: "Tidak, tapi ketika engkau diam, ada malaikat yang membela dan menjawabnya untukmu. Namun ketika engkau membalas, setan datang, dan aku tidak akan duduk bersama setan."
Kisah ini mengajarkan bahwa diam dan sabar saat disakiti adalah akhlak mulia yang didampingi malaikat.
Penutup
Mengendalikan amarah adalah jihad melawan diri sendiri (jihadun nafs) yang sangat mulia. Dengan membaca doa berlindung kepada Allah, mengubah posisi, berwudhu, dan diam, kita bisa meredakan amarah dan terhindar dari perbuatan yang disesali. Ingatlah selalu bahwa orang yang kuat bukanlah yang bisa memukul orang lain, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.
Doa Terkait dalam Doa Harian
Jelajahi doa-doa lain yang berkaitan dengan doa ketika marah